Saya tidak terlalu paham benar kata hikmah. Karena dalam bahasa daerah saya kata ini tidak ada. Kata ini berkaitan dengan keberuntungan. Berkaitan dengan berkat. Kebaikan yang datang setelah sesuatu yang kurang menguntungkan. Entah itu sebuah kesalahan, sebuah petaka atau semua yang berbau tidak begitu menyenangkan. Kata pertama yang saya kenal adalah blessing. Saya lebih terkesan dengan kata asing itu. Itu berkat, keberkatan. Kenikmatan atau kebaikan yang diterima setelah ada kemalangan. kesalahan atau kebuntuan
Makna baru yang diambil sesudah sebuah peristiwa terjadi. Ada yang dipelajari. Ada yang perlu diperbaiki dan menghasilkan yang baik dan lebih baik lagi. Itulah hikmah. Itulah berkat. Itulah Blessing.
Janganlah anda putus asa atau kecewa bila anda merasa tidak beruntung atau tidak berhasl. Percayalah ada berkat. Ada penundaan keberuntungan . Ada saat yang lebih tepat untuk menikmati yang lebih baik dan yang terbaik.
Felix culpa, o dosa atau kesasalahan yang membahagiakan. Buah dari kedosaan manusia, orang Kristen percaya Tuhan mereka datang menebusnya. Orang Inggeris mengatakan blessing in disguise, ada berkat atau keberuntungan dibalik kemalangan. Karena itu ketika ketika dirundung malang, orang yang pasrah selalu bertanya ada apa dibalik beban tak tertanggungkan.
Thursday, 5 June 2008
Friday, 23 May 2008
Tanah Itu Rahim
Tanah atau tanah air atau tana (bahasa Keo) adalah tempat atau bagian dari bumi dimana manusia hidup. Untuk sementara ini kita sepakat bahwa manusia hidup di atas tanah. Tanah sebagai lokasi atau bagian dari bumi yang luas.
Tanah dalam bahasa daerah saya selalu dikaitkan dengan batu. Makanya kalau orang Indonesia umumnya menyebut tanah air, maka orang Keo menyebutnya tanah batu (tana watu). Orang Keo sangat menghormati atau menghargai tanah. Ketika seorang bayi untuk pertama kali turun ke tanah dibuat pesta khusus. Orang bisa bersumpah sambil memegang tanah. Dalam berkat adat tanah diikut sertakan. Orang terkadang sangat takut pada malam hari karena ada orang yang menyirami tanah ke rumah orang lain. Orang bisa terkutuk apabila merampas hak tanah orang lain.
Tanah sama dengan rahim ibu. Orang Keo menyebut orang meninggal sebagai kembali memasuki rahim ibu (tama tuka ine). Di sana ada kedamaian sebagai seorang bayi ketika masih dalam kandungan ibu menikmati kecukupan dan perlindungan yang paling aman. Melalui pernyataan ini orang Keo tradisional percaya bahwa masih ada kehidupan sesudah meninggal.
Mereka percaya bahwa orang meninggal berada dalam dunia terang (mera papa ndala) dan kematian tidak menjadi akhir hidup manusia. Kematian membuat seorang menjadi lebih dekat dengan manusia yang hidup dimanapun berada. Dunia roh adalah alam bahagia, alam berkelimpahan, tempat Tuhan (dae koo Nggae). Masyarakat Keo menyebut Allah sebagai Dewa atau Ndewa juga menyebutnya Pemilik (Nggae). Makanya seorang yang sudah meninggal juga disebut kembali ke rahim ibu (tama tuka ine) juga menyebutnya kembali ke Pemiliknya ( wado ena Nggae).
Tanah dalam bahasa daerah saya selalu dikaitkan dengan batu. Makanya kalau orang Indonesia umumnya menyebut tanah air, maka orang Keo menyebutnya tanah batu (tana watu). Orang Keo sangat menghormati atau menghargai tanah. Ketika seorang bayi untuk pertama kali turun ke tanah dibuat pesta khusus. Orang bisa bersumpah sambil memegang tanah. Dalam berkat adat tanah diikut sertakan. Orang terkadang sangat takut pada malam hari karena ada orang yang menyirami tanah ke rumah orang lain. Orang bisa terkutuk apabila merampas hak tanah orang lain.
Tanah sama dengan rahim ibu. Orang Keo menyebut orang meninggal sebagai kembali memasuki rahim ibu (tama tuka ine). Di sana ada kedamaian sebagai seorang bayi ketika masih dalam kandungan ibu menikmati kecukupan dan perlindungan yang paling aman. Melalui pernyataan ini orang Keo tradisional percaya bahwa masih ada kehidupan sesudah meninggal.
Mereka percaya bahwa orang meninggal berada dalam dunia terang (mera papa ndala) dan kematian tidak menjadi akhir hidup manusia. Kematian membuat seorang menjadi lebih dekat dengan manusia yang hidup dimanapun berada. Dunia roh adalah alam bahagia, alam berkelimpahan, tempat Tuhan (dae koo Nggae). Masyarakat Keo menyebut Allah sebagai Dewa atau Ndewa juga menyebutnya Pemilik (Nggae). Makanya seorang yang sudah meninggal juga disebut kembali ke rahim ibu (tama tuka ine) juga menyebutnya kembali ke Pemiliknya ( wado ena Nggae).
Thursday, 22 May 2008
Membaca Tanda Tanda
Suatu saat begitu banyak ular keluar dari sarang dan berkeliaran dimana-mana. Monyet-monyet turun dari gunung dan berkeliaran di pohon-pohon sekitar kampung. Suasana sangat mengagetkan orang-orang di seluruh wilayah di kaki gunung yang sejuk. Alam sekitar seperti biasa. Matahari pagi bersinar lembut dan terik siang seperti biasa. Kepala sekolah berasrama mengirim pulang semua siswa ke rumah orang tua. Para pelajar yang masih muda bertanya-tanya. Kepala sekolah mengatakan bahwa siswa berlibur sampai keadaan pulih, karena nampaknya gunung berapi akan meletus. Selang beberapa hari terjadi gempa, dan gunung mengeluarkan muntah padat berwarna merah darah mendidih. Ular yang biasa menghuni lubang-lubang di tanah merasa gerah dan lari. Monyet merasa panas dan berpindah tempat. Migrasi binatang menjadi tanda atau pratanda bencana letusan gunung berapi.
Ketika seorang anak bayi menangis atau diam cara tidak biasa, seorang ibu akan paham keadaan anaknya. Menangis bisa karena lapar. Menangis bisa karena minta perhatian. Menangis bisa karena sakit kepala atau sakit perut. Apabila pencernaan tubuh tidak lancar dan sulit buang air besar, kepala kita menjadi pusing. Kepala pusing bisa karena berbagai sebab. Rasa pusing hanyalah akibat. Pencernaan kita yang tidak normal bisa membuat kepala pusing. Sakit kepala tidak saja karena alasan pencernaan. Sakit gigi bisa memusingkan kepala.
Perasaan dan suasana batin terbaca melalui tanda-tanda tanpa kata. Senyum, tawa, kesal , rasa bersalah adalah tanda atau reaksi yang tampak atas apa yang terjadi dalam batin kita.
Membaca tanda-tanda membutuhkan kepekaan. Hanya orang yang peka mampu membaca tanda-tanda itu. Orang tidak cukup berhenti dengan membaca atau mengenal tanda itu. Kita dituntut untuk mengambil langkah-langkah selanjutnya. Tindak lanjut disesuaikan dengan pemahaman tanda tanda itu. Sakit kepala karena terlambat makan, tindakan jelas harus makan. Tidak semua sakit kepala disembuhkan dengan obat dokter. Katanya setiap obat sakit kepala mengandung valium, jenis penenang atau pemati rasa. Bila setiap seorang sakit kepala diberi valium secara terus menerus, maka alarm tubuhnya akan tidak berrfungsi lagi. Organ tubuhnya akan kehilangan kepekaan rasa bila terus diberi obat penenang atau pemati rasa.
Rasa bersalah, rasa malu adalah bagian dari alarm dalam setiap pribadi. Kita juga harus pandai memahami tanda-tanda ini. Karena perasaan hati adalah alat kontrol yang mengingatkan kita untuk melindungi diri. Kita disadarkan bahwa kita telah bertindak atau bertutur kata salah. Kita harus melakukan tindak lanjut. Rasa bersalah atau rasa malu berlebihan bisa membuat seorang menutup diri atau bahkan bermigrasi. Rasa bersalah bisa membuat kita gerah, gunung berapi perasaan kita serasa mau meletus. Kita harus membaca tanda-tanda ini dan mengambil langkah-langkah bijak.
Ketika seorang anak bayi menangis atau diam cara tidak biasa, seorang ibu akan paham keadaan anaknya. Menangis bisa karena lapar. Menangis bisa karena minta perhatian. Menangis bisa karena sakit kepala atau sakit perut. Apabila pencernaan tubuh tidak lancar dan sulit buang air besar, kepala kita menjadi pusing. Kepala pusing bisa karena berbagai sebab. Rasa pusing hanyalah akibat. Pencernaan kita yang tidak normal bisa membuat kepala pusing. Sakit kepala tidak saja karena alasan pencernaan. Sakit gigi bisa memusingkan kepala.
Perasaan dan suasana batin terbaca melalui tanda-tanda tanpa kata. Senyum, tawa, kesal , rasa bersalah adalah tanda atau reaksi yang tampak atas apa yang terjadi dalam batin kita.
Membaca tanda-tanda membutuhkan kepekaan. Hanya orang yang peka mampu membaca tanda-tanda itu. Orang tidak cukup berhenti dengan membaca atau mengenal tanda itu. Kita dituntut untuk mengambil langkah-langkah selanjutnya. Tindak lanjut disesuaikan dengan pemahaman tanda tanda itu. Sakit kepala karena terlambat makan, tindakan jelas harus makan. Tidak semua sakit kepala disembuhkan dengan obat dokter. Katanya setiap obat sakit kepala mengandung valium, jenis penenang atau pemati rasa. Bila setiap seorang sakit kepala diberi valium secara terus menerus, maka alarm tubuhnya akan tidak berrfungsi lagi. Organ tubuhnya akan kehilangan kepekaan rasa bila terus diberi obat penenang atau pemati rasa.
Rasa bersalah, rasa malu adalah bagian dari alarm dalam setiap pribadi. Kita juga harus pandai memahami tanda-tanda ini. Karena perasaan hati adalah alat kontrol yang mengingatkan kita untuk melindungi diri. Kita disadarkan bahwa kita telah bertindak atau bertutur kata salah. Kita harus melakukan tindak lanjut. Rasa bersalah atau rasa malu berlebihan bisa membuat seorang menutup diri atau bahkan bermigrasi. Rasa bersalah bisa membuat kita gerah, gunung berapi perasaan kita serasa mau meletus. Kita harus membaca tanda-tanda ini dan mengambil langkah-langkah bijak.
Sunday, 18 May 2008
Aku Harus Menulis Lagi
Seorang pengunjung pojokan saya menanyakan mengapa saya tidak mengisi post saya. Mengapa tidak menulis dan terus menulis.
Saya bertanya pada diri mengapa saya harus menulis lagi? Saya tidak mau banyak berpikir untuk menjawabnya. Terus terang sebelum ada media ini saya tidak terbiasa menulis. Setiap orang pasti mempunyai alasan berbeda mengapa tidak bisa menulis. Menulis memang tidak merupakan kebutuhan. Yang kita belajar pertama adalah berbicara. Kalau kita tidak berbicara maka berarti kita gagu. Gagu pasti ada alasan. Alasan yang pertama adalah pendengaran. Setiap orang yang cacat indra pendengarannya akan menerima bawaan nasib cacat bicara (gagu).
Ketika usia bertambah kita meningkatkan kemampuan kita dengan membaca dan menulis. Membaca adalah kemampuan yang dikembangkan pertama sebelum menulis. Jadi menulis merupakan suatu ketrampilan yang diajarkan paling akhir.
Kemampuan menulis pada tingkat paling dasar adalah mengenal huruf, kita diajarkan bagaimana menulis huruf. Atas dasar itu kita memperoleh kemampuan menulis kata dan kalimat. Kemampuan dan ketrampilan membaca terus dikembangkan , tetapi tidak demikian dengan kemampuan menulis. Kita tidak memiliki ketrampilan dan kemampuan menulis karena memang tidak diasah.
Kemampuan menulis tidak pernah ditingkatkan. Alasan pertama karena kita berada dalam masyarakat dengan tradisi lisan. Kita menerima pesan lewat bicara, puisi dan lagu. Media penyampaian kita adalah tutur, pantun, syair, puisi dan lagu. Karena itu tidak heran jika seorang ingin fasih bertutur adat, dia harus banyak duduk dan dengar para tua adat. Jika seorang ingin pandai berpantun dia harus meluangkan waktu khusus untuk mendengar pelantunnya. Sejarah suku bisa diketahui melalui tradisi lisan, yang disampaikan pada saat tertentu. Dalam budaya Keo, mengkisahkan sejarah suku berupa "naro", menutur kisah turunan pada saat upacara adat khusus. Melalui media tutur lisan ini terdapat beberapa hambatan. Terbatas jangkauan informasinya. Juga terbatas sumber memorinya, yang hasilnya adalah kekilafan. Pepatah Romawi menegaskan ini. Verba volant (kata-kata tebang), scripta manent (tulisan tertinggal).
Menulis dengan baik tentu mungkin perlu suatu tuntunan khusus. Pasti ada pedoman rujukan untuk menulis. Saat ini saya tidak mau terlalu menghiraukan pedoman itu. Dan saya betul tidak membaca tentang pedoman itu. Sementara ini pedoman saya adalah nurani saya. Apa yang ingin saya katakan saya ungkapkan dengan tulisan saya. Yang ingin dicapai saat ini adalah mengatakan dengan tulisan. Saya katakan dengan tulisan, karena ada berbagai cara mengatakan pikiran dan keinginan kita. Ada bahasa gerak atau bahasa isyarat dan bahasa tubuh. Dan menyatakan pikiran dan keinginan melalui tulisan adalah suatu ketrampilan. Sebagai ketrampilan , kegiatan menulis membutuhkan waktu. Saya akan terus menulis karena ada media ini.
Saya bertanya pada diri mengapa saya harus menulis lagi? Saya tidak mau banyak berpikir untuk menjawabnya. Terus terang sebelum ada media ini saya tidak terbiasa menulis. Setiap orang pasti mempunyai alasan berbeda mengapa tidak bisa menulis. Menulis memang tidak merupakan kebutuhan. Yang kita belajar pertama adalah berbicara. Kalau kita tidak berbicara maka berarti kita gagu. Gagu pasti ada alasan. Alasan yang pertama adalah pendengaran. Setiap orang yang cacat indra pendengarannya akan menerima bawaan nasib cacat bicara (gagu).
Ketika usia bertambah kita meningkatkan kemampuan kita dengan membaca dan menulis. Membaca adalah kemampuan yang dikembangkan pertama sebelum menulis. Jadi menulis merupakan suatu ketrampilan yang diajarkan paling akhir.
Kemampuan menulis pada tingkat paling dasar adalah mengenal huruf, kita diajarkan bagaimana menulis huruf. Atas dasar itu kita memperoleh kemampuan menulis kata dan kalimat. Kemampuan dan ketrampilan membaca terus dikembangkan , tetapi tidak demikian dengan kemampuan menulis. Kita tidak memiliki ketrampilan dan kemampuan menulis karena memang tidak diasah.
Kemampuan menulis tidak pernah ditingkatkan. Alasan pertama karena kita berada dalam masyarakat dengan tradisi lisan. Kita menerima pesan lewat bicara, puisi dan lagu. Media penyampaian kita adalah tutur, pantun, syair, puisi dan lagu. Karena itu tidak heran jika seorang ingin fasih bertutur adat, dia harus banyak duduk dan dengar para tua adat. Jika seorang ingin pandai berpantun dia harus meluangkan waktu khusus untuk mendengar pelantunnya. Sejarah suku bisa diketahui melalui tradisi lisan, yang disampaikan pada saat tertentu. Dalam budaya Keo, mengkisahkan sejarah suku berupa "naro", menutur kisah turunan pada saat upacara adat khusus. Melalui media tutur lisan ini terdapat beberapa hambatan. Terbatas jangkauan informasinya. Juga terbatas sumber memorinya, yang hasilnya adalah kekilafan. Pepatah Romawi menegaskan ini. Verba volant (kata-kata tebang), scripta manent (tulisan tertinggal).
Menulis dengan baik tentu mungkin perlu suatu tuntunan khusus. Pasti ada pedoman rujukan untuk menulis. Saat ini saya tidak mau terlalu menghiraukan pedoman itu. Dan saya betul tidak membaca tentang pedoman itu. Sementara ini pedoman saya adalah nurani saya. Apa yang ingin saya katakan saya ungkapkan dengan tulisan saya. Yang ingin dicapai saat ini adalah mengatakan dengan tulisan. Saya katakan dengan tulisan, karena ada berbagai cara mengatakan pikiran dan keinginan kita. Ada bahasa gerak atau bahasa isyarat dan bahasa tubuh. Dan menyatakan pikiran dan keinginan melalui tulisan adalah suatu ketrampilan. Sebagai ketrampilan , kegiatan menulis membutuhkan waktu. Saya akan terus menulis karena ada media ini.
Tuesday, 13 May 2008
Jujur Anakku Menyontek
Ketika anak saya kelas II Esde. Saya agak ragu dengan kepandaiannya. Dia sangat banyak bermain. Tetapi hasilnya baik-baik saja. Dia memang tidak bodoh. Tetapi dengan kepandaian yang sedang-sedang saja menurutku dia harus punya waktu untuk belajar.
Keluarga sangat menekankan kejujuran. Saya selalu katakan bahwa penting mengatakan dengan jujur. Kalau kamu nakal dan jatuh harus kamu katakan. Orang tua perlu tahu masalahnya dan cara terbaik bagi kesehatannya. Pernah dua anak saya menuangkan susu di tempat cuci piring lebih dari setahun. Keduanya masing-masing menuangkan susu di tempat cuci tanpa ada yang tahu. Masing-masing tidak saling mengetahui slah satu dari mereka melakukan perbuatan tidak terpuji itu. Mereka sangat bosan dipaksa minum susu. Kelakuan ini sudah lebih dari setahun. Berapa banyak rupiah untuk membiayai susu yang dibuang selama lebih dari satu tahun? Ketika akan mencucui tangan di dapur saya melihat ada ceceran susu. Dan ketahuilah ada yang membuang susu. Selidik punya selidik kedua anak saya membuang susu setiap kali setelah mereka menerima dari ibu mereka. Mereka bosan, muak minum susu. Saya mengatakan supaya mereka katakan dengan jujur. Dan jujur mereka mengatakan telah lama membuang susu. Sejak itu kami sadar kami tidak berkomunikasi baik dengan mereka. Kami menghargai kejujurannya kami berhenti beli susu.
Berbicara tentang kejujuran dan nyontek. Atau judul tulisan mengatakan Jujur Anakku Menyontek. Ada dua pengertian degan judul ini. Pertama. saya mau mengatakan kepada orang lain, saya jujur. Saya mengakui punya anak tukang nyontek. Dan saya mengharamkan itu. Dari sisi lain atau pengertian yang kedua , sebenarnya yang ingin saya katakan bahwa anak saya mengatakan dengan jujur, papa saya nyontek.
Anak saya mengaku dengan jujur sebagai anak lugu kepada papanya. Papa, betul saya nyontek. Mengapa dia mengaku. Karena kejujuran penting. Apakah saya menyetujui di nyontek? Jelas saya tidak setuju dan mengharamkan. Dengan melihat kebiasaan dan hasil ulangan mata pelajarannya, saya meragukan nilainya. Saya tanya apakah dia pernah nyontek. Dia mengatakan bahwa dia tidak tahu apa itu nyontek. Saya mengatakan apakah dia pernah jawab soal dengan melihat temannya." O.ya, itu sih betul. Teman saya menyorongkan bukunya untuk saya lihat dan menyalin jawaban." Saya tidak mengatakan ini namanya nyontek. Saya mengatakan bahwa pengakuannya baik bagi saya. Ini kejujuran. Jujur anak saya menyontek.
Saya tidak setuju dengan nyontek. Dan saya mengatakan pada anak saya, apakah kamu boleh memetik mangga di kebun sebelah seenaknya. Sementara kebun sendiri kamu biarkan kosong dan tidak ditanam apa-apa karena malas. Baik atau tidak? Dia menjawab tidak. Berarti dia sepakat dengan saya nyontek tidak baik. Saya bilang nyontek sama dengan curi buah di kebun orang. Pada ulangan yang berikut anak saya memperoleh nilai asli dibawah dari kebiasaan sebelumnya. Saya menegurnya. mengapa agak menurun nilainya. Anak saya menjawab dengan polos: Yang penting nggak nyontek." Saya puas dia berhenti mencuri atau nyontek setelah jujur mengatakan bahwa sudah menyontek.
Keluarga sangat menekankan kejujuran. Saya selalu katakan bahwa penting mengatakan dengan jujur. Kalau kamu nakal dan jatuh harus kamu katakan. Orang tua perlu tahu masalahnya dan cara terbaik bagi kesehatannya. Pernah dua anak saya menuangkan susu di tempat cuci piring lebih dari setahun. Keduanya masing-masing menuangkan susu di tempat cuci tanpa ada yang tahu. Masing-masing tidak saling mengetahui slah satu dari mereka melakukan perbuatan tidak terpuji itu. Mereka sangat bosan dipaksa minum susu. Kelakuan ini sudah lebih dari setahun. Berapa banyak rupiah untuk membiayai susu yang dibuang selama lebih dari satu tahun? Ketika akan mencucui tangan di dapur saya melihat ada ceceran susu. Dan ketahuilah ada yang membuang susu. Selidik punya selidik kedua anak saya membuang susu setiap kali setelah mereka menerima dari ibu mereka. Mereka bosan, muak minum susu. Saya mengatakan supaya mereka katakan dengan jujur. Dan jujur mereka mengatakan telah lama membuang susu. Sejak itu kami sadar kami tidak berkomunikasi baik dengan mereka. Kami menghargai kejujurannya kami berhenti beli susu.
Berbicara tentang kejujuran dan nyontek. Atau judul tulisan mengatakan Jujur Anakku Menyontek. Ada dua pengertian degan judul ini. Pertama. saya mau mengatakan kepada orang lain, saya jujur. Saya mengakui punya anak tukang nyontek. Dan saya mengharamkan itu. Dari sisi lain atau pengertian yang kedua , sebenarnya yang ingin saya katakan bahwa anak saya mengatakan dengan jujur, papa saya nyontek.
Anak saya mengaku dengan jujur sebagai anak lugu kepada papanya. Papa, betul saya nyontek. Mengapa dia mengaku. Karena kejujuran penting. Apakah saya menyetujui di nyontek? Jelas saya tidak setuju dan mengharamkan. Dengan melihat kebiasaan dan hasil ulangan mata pelajarannya, saya meragukan nilainya. Saya tanya apakah dia pernah nyontek. Dia mengatakan bahwa dia tidak tahu apa itu nyontek. Saya mengatakan apakah dia pernah jawab soal dengan melihat temannya." O.ya, itu sih betul. Teman saya menyorongkan bukunya untuk saya lihat dan menyalin jawaban." Saya tidak mengatakan ini namanya nyontek. Saya mengatakan bahwa pengakuannya baik bagi saya. Ini kejujuran. Jujur anak saya menyontek.
Saya tidak setuju dengan nyontek. Dan saya mengatakan pada anak saya, apakah kamu boleh memetik mangga di kebun sebelah seenaknya. Sementara kebun sendiri kamu biarkan kosong dan tidak ditanam apa-apa karena malas. Baik atau tidak? Dia menjawab tidak. Berarti dia sepakat dengan saya nyontek tidak baik. Saya bilang nyontek sama dengan curi buah di kebun orang. Pada ulangan yang berikut anak saya memperoleh nilai asli dibawah dari kebiasaan sebelumnya. Saya menegurnya. mengapa agak menurun nilainya. Anak saya menjawab dengan polos: Yang penting nggak nyontek." Saya puas dia berhenti mencuri atau nyontek setelah jujur mengatakan bahwa sudah menyontek.
Peluang Bisnis dengan Entrecard
Saya menumpahkan semua tulisan yang sudah bagus ini seadanya. Saya pikir mungkin ada yang lagi ketiban nasib sial di ujung senja dan mampir di blok aku tapi bukan di bloggue.com, blognya saudara Medy Aginta yang penuh dengan tulisan- tulisan yang sangat bermanfaat. Maaf sama saudara saya yang punya tulisan bagus ini. Saya hanya mau jadi reseller pengetahuan tanpa bayar. Saya sudah katakan saya tidak menyadur tetapi menuangkan seisi tulisan,karena saya mau katakan pada pesinggah di sudut ini ada yang baik,- kecuali judul dibengkokan dikit.
Mas, gimana caranya jual credit Entrecard supaya bisa jadi duit beneran?"
Pertanyaan ini disampaikan Mas Jimmy Sun beberapa waktu kemarin ketika mengomentari artikel "Spottt: Saudara Kandung Entrecard?" di blog ini.
Langsung saja ya. Caranya begini.
Pertama, tentu saja terlebih dahulu Anda harus mengumpulkan kredit Entrecard sebanyak mungkin. Ada 3 cara gampang untuk mengumpulkan kredit Entrecard: (1) Sering-seringlah meng-klik Entrecard (drop your card) di blog lain (Anda mendapatkan 1 kredit); (2) Jika orang lain meng-klik Entrecard (drop their card) di blog Anda, Anda mendapatkan 1 kredit juga; (3) Jika orang lain ingin mempromosikan blognya di blog Anda, Anda mendapatkan kredit sesuai harga beriklan di widget Entrecard Anda.
Kedua, setelah terkumpul 1000 kredit Entrecard (tentu untuk mendapatkan 1000 kredit setiap orang punya cara dan kecepatan yang berbeda-beda. Manfaatkanlah Entrecard Opener), silahkan membuat thread posting di Entrecard Forum (bisa di Sub Kategori: Entrecard Economy atau sub kategori yang lain) dengan subyek Selling Entrecard Credit. Jika Anda kesulitan menulis dalam bahasa Inggris, cukup copy-paste isi posting berikut ini:
"Hi all. I want to sell my Entrecard credits. I have (tuliskan jumlah kredit Entrecard yang hendak Anda jual) credits ready just for $3. If you're interested in this offer, please send me a message. Thanks a lot."
Harga pasar kredit Entrecard berkisar antara $3 - $4 per 1000 kredit. Jadi, jangan terlalu tinggi atau terlalu rendah memberikan penawaran harga. :)
Ketiga, tunggu penawaran yang masuk melalui message board di akun Entrecard Anda. Jika Anda telah mendapatkan calon pembeli, mintalah agar ia mengirimkan uang yang telah disepakati melalui akun PayPal Anda. Setelah uang Anda terima, kirim kredit Entrecard yang Anda jual dengan cukup mengklik tombol Send Credit di bagian dashboard akun Entrecard Anda. Isikan alamat email si pembeli dan jumlah kredit yang Anda jual. Tidak sampai lima menit, kredit Entrecard pun telah terjual dan Anda telah menghasilkan uang yang cukup lumayan, meskipun recehan, dengan Entrecard. :)
Satu lagi peluang mendulang uang dari internet. Selamat mencoba. :)
Ini contekan dari Medy Aginta di blogguebo.com
Sunday, 11 May 2008
Semakin Capek Semakin Ngeresap
Sepasang manula bapa Suryana dan ibu Ati bersemangat dalam kelelahan mengumpulkan rumput buat makanan sapinya. Setelah dipotong kemudian bersama-sama suami pasangan manula itu mengisi dalam karung. Sang suami memikul sampai ke kandang sapi, berbatasan dengan dapur rumahnya. Saya selalu menyapa setiap bertemu mereka lagi menyabit rumput di samping halaman pabrik kami.
Ibu Atu menympari saya ketika memarkir mobil di bawah payungan daun pohon ketapang. Saya menasedhati agar menjaga kesehatan. Dia menjawab dengan santai tetapi tegas:"Biar capek, biar semakin ngeresap".
Mereka seharusnya bisa beristirahat dan bersenang saja. Karena mereka hidup hanya berdua. Ada ternak sapi dan kambing. Ada sawah dan lagang. Punya tanah lumayan luas. Hasil panen berlebihan untuk konsumsi berdua, apa lagi mak Ati mengidap darah tinggi. Semakin sedikit kebutuhan makanan setiap hari. Saya juga tahu mereka mempunyai simpanan uang cukup, bahkan termasuk banyak untuk ukuran keluarga biasa.
Mereka terus bekerja dan katanya semakin banyak kerjanya atau semakin lelah akan semakin baik untuk mereka. Mereka merasa bahagia melakukan semuanya itu.
Capek, kelelahan, penat mempunyai pengertian sama. Kehabisan tenaga dan semangat untuk bekerja lagi. Pada saat lelah karena kerja ada orang yang merasa ingin bebas dari pekerjaan itu. Ketika bekerja sebagai tuntutan dari pihak lain atau sebagai kewajiban, maka kerja menjadi sebuah beban. Capek atau kelelahan sebagai sesuatu yang dihindari.
Berbeda dengan Mak Ati dan bapak Suryana. Kerja keras dihayati atau diresapi sebagai sesuatu yang enak, nyaman. Katanya semakin capek semakin ngeresap. Bekerja sudah sebagai rekreasi yang memberikan kebahagiaan. Kelelahan diterima sebagai kewajaran yang harus diterima setelah berolah badan. Kerja itu bagi Mak Ati dan bapak Suryana, bekerja itu sebagai bagian dari eksistensi pribadi. Mereka merasa masih berarti dengan bekerja. Mereka harus terus kelihatan kuat dan hidup lama. Banyak orang bekerja dan terus bekerja dlam tekanan. Kerja sebagai wajib, karena kalau tidak kerja lenyap sesuap nasinya. Ada ketergantungan. Tidak ada kebebesan. Sangat terbalik dengan Mak Ati dan Bapak Suryana dalam melaksanakan pekerjaan mereka.
Ibu Atu menympari saya ketika memarkir mobil di bawah payungan daun pohon ketapang. Saya menasedhati agar menjaga kesehatan. Dia menjawab dengan santai tetapi tegas:"Biar capek, biar semakin ngeresap".
Mereka seharusnya bisa beristirahat dan bersenang saja. Karena mereka hidup hanya berdua. Ada ternak sapi dan kambing. Ada sawah dan lagang. Punya tanah lumayan luas. Hasil panen berlebihan untuk konsumsi berdua, apa lagi mak Ati mengidap darah tinggi. Semakin sedikit kebutuhan makanan setiap hari. Saya juga tahu mereka mempunyai simpanan uang cukup, bahkan termasuk banyak untuk ukuran keluarga biasa.
Mereka terus bekerja dan katanya semakin banyak kerjanya atau semakin lelah akan semakin baik untuk mereka. Mereka merasa bahagia melakukan semuanya itu.
Capek, kelelahan, penat mempunyai pengertian sama. Kehabisan tenaga dan semangat untuk bekerja lagi. Pada saat lelah karena kerja ada orang yang merasa ingin bebas dari pekerjaan itu. Ketika bekerja sebagai tuntutan dari pihak lain atau sebagai kewajiban, maka kerja menjadi sebuah beban. Capek atau kelelahan sebagai sesuatu yang dihindari.
Berbeda dengan Mak Ati dan bapak Suryana. Kerja keras dihayati atau diresapi sebagai sesuatu yang enak, nyaman. Katanya semakin capek semakin ngeresap. Bekerja sudah sebagai rekreasi yang memberikan kebahagiaan. Kelelahan diterima sebagai kewajaran yang harus diterima setelah berolah badan. Kerja itu bagi Mak Ati dan bapak Suryana, bekerja itu sebagai bagian dari eksistensi pribadi. Mereka merasa masih berarti dengan bekerja. Mereka harus terus kelihatan kuat dan hidup lama. Banyak orang bekerja dan terus bekerja dlam tekanan. Kerja sebagai wajib, karena kalau tidak kerja lenyap sesuap nasinya. Ada ketergantungan. Tidak ada kebebesan. Sangat terbalik dengan Mak Ati dan Bapak Suryana dalam melaksanakan pekerjaan mereka.
Subscribe to:
Posts (Atom)